Friday, May 15, 2026

Melawan Senyap di Usia Kepala Tiga: Tentang JNE, Gitar Legenda, dan Harapan yang Belum Mati

​ Kamar ini biasanya senyap. Di sudut ruangan, beberapa gitar listrik berjejer rapi, namun mereka tampak seperti artefak masa lalu yang berdebu. Di usia saya yang menginjak 30 tahun, saya merasa seperti sebuah lagu yang sudah selesai diputar sebelum mencapai chorus-nya. Semangat berkarya itu luntur, tertimbun oleh hiruk-pikuk tuntutan hidup yang membuat saya merasa "mati" secara kreatif. Saya kehilangan api, kehilangan harapan, dan hampir memilih untuk berhenti bermimpi.

​ Namun, sore itu sebuah kabar melintas di layar ponsel saya. JNE sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Sebuah angka yang bahkan lebih dulu ada dibandingkan fase produktif saya.

​ Saya terdiam sejenak. Di tengah gempuran zaman, di mana ekspedisi baru bermunculan di setiap tikungan jalan dengan persaingan yang begitu brutal, JNE justru tetap berdiri tegak. Bukannya meredup, mereka malah tampil makin bertenaga dengan JNE Content Competition 2026. Mereka merangkul kreativitas, menyediakan panggung, dan menggelontorkan apresiasi luar biasa bagi orang-orang yang mau terus bergerak. Antusiasme mereka seolah berteriak di telinga saya: "Kami sudah 35 tahun, dan kami belum selesai!"

​ Seketika, memori saya terlempar jauh ke belakang. Saya ingat betul momen ketika saya masih sangat muda dan nekat berhutang demi membeli sebuah gitar listrik pertama. Itu bukan sekadar alat musik bagi saya; itu adalah kunci untuk membuka gerbang impian yang begitu saya dambakan. Saya ingat kecemasan sekaligus kegembiraan saat menunggu paket itu datang. Dan ya, layanan JTR (JNE Trucking)-lah yang mengantarkan "harapan" seberat belasan kilogram itu sampai ke tangan saya dengan selamat.

​ Energi itu masih saya rasakan hingga sekarang. Dari sekian banyak gitar yang saya miliki saat ini, hanya satu gitar legenda yang dikirim oleh JNE itulah yang berhasil membantu saya merampungkan sebuah rekaman musik yang benar-benar utuh. Gitar itu dikirim dengan penuh dedikasi melalui pelayanannya yang menembus jarak, membawa nyawa bagi karya-karya saya di masa itu.

​ Sangat ironis memang. Sekarang saya punya lebih banyak instrumen, tapi saya malah kehilangan gairah. Namun, melihat semangat JNE yang tidak pernah pudar di usia 35 tahun, saya merasa tertampar sekaligus terinspirasi. Jika JNE bisa tetap relevan, tetap antusias, dan tetap mendukung hal-hal kreatif di tengah situasi sesulit apa pun, lantas apa alasan saya untuk menyerah di usia 30?

​ Melalui tulisan ini, saya memutuskan untuk bangkit. Jika saat ini saya belum mampu memetik senar gitar untuk merekam lagu baru, maka saya akan mulai berkarya kembali lewat untaian kata untuk JNE. Tulisan ini adalah bukti nyata bahwa semangat JNE yang tak kunjung padam berhasil "menyetrum" kembali api kreativitas dalam diri saya yang sempat padam.

​ Terima kasih, JNE. Selamat ulang tahun ke-35. Terima kasih telah mengantarkan lebih dari sekadar paket, tapi juga harapan yang menolak untuk mati.

​ Gasskeun, Rock and Roll!!


#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition206 #JNEBeragamCerita



Tuesday, May 21, 2019

Temui Aku Di Jalan Pulang

Orang yang istimewa akan selalu datang dengan cara yang berbeda
Kita tidak pernah tau, biar saja takdir berbicara
Usaha ini tidak pernah terencana sebelumnya
Rangkaian kata bodoh untuk kiasan
Kode nomor identik sebagai alamat
Tiga surat berbentuk hati dengan satu ungkapan
Semua mengalir begitu saja
Dan yang harusnya kau tau
Selalu ada makna dari sebuah cerita
Tuhan tau semuanya
Dalam do'a ku titipkan
Harap, rindu, serta arah
Lirih kata yang kau tau tak henti terus memohon
Temui aku di jalan pulang

Monday, November 20, 2017

Perubahan

Pagi, apa kabar?
Sejuk, namun mengapa tak seperti kemarin?
Kicau burung, kemana mereka?
Aku tak mendengarnya lagi, begitu bising dengan suara mesin saat ini
Aktifitas begitu padat, tak begitu tenang
Yang kita cari sekarang berbeda
Kita tak lagi menumbuhkan
Sekarang kita mencari untuk membeli
Membeli hasil dari mereka yang masih menumbuhkan
Namun jika kita semua berubah total, apa lagi yang bisa kita beli?
Pagi kita mungkin tak akan sejuk lagi
Udara kita tak akan segar lagi
Dan kicau burung mungkin tidak akan pernah terdengar lagi, menyedihkan
Setelah melihat pagi ini, sungguh fikiran kosong ini terganggu
Terganggu oleh rasa takut akan perubahan, perubahan yang mungkin akan menghapus ketenangan
Aku ingin kembali, aku harus kembali, bersama buatlah semua ini kembali, kembali tenang dan indah dalam damai!

Saturday, November 18, 2017

Waktu

Aku terbangun pagi ini
Terbangun dengan fikiran hampa
Dan setelah semua isi otak ini kembali
Rutinitas kembali ku ulang seperti hari-hari sebelumnya
Banyak hal yang ingin ku lakukan
Namun banyak pula hal yang harus ku lakukan
24 jam terasa tidak cukup rasanya
Namun mengapa tidak bagi semua orang
Mengapa bisa berbeda?
Bukan kah kita semua sama?
Semua sama mendapat 24 jam dalam sehari
Dan ketika ku tela'ah lebih jauh
Ya aku sadar, yang berbeda bukanlah waktu, melainkan cara kita menggunakannya
Waktu tetap sama, setiap harinya akan selalu sama
Semua hanya tentang bagaimanana
Bagaimana cara kita menggunakannya
Manfaatkan sebaik-baiknya
Karena ketika waktu berlalu pergi, ia tak akan pernah kembali lagi

Friday, November 17, 2017

Kisahku, Cintaku, Dan Arti Yang Ku Dapat

Entah siapa yang salah, pertemuan kita atau mungkin aku
Jika memang ada kata hai maka mungkin jodohnya adalah bye
Mungkin dengan berpisah Cara Tuhan untuk membuat ku lebih bahagia
Rasa sakit adalah cara Tuhan membuat ku lebih dewasa dan lebih memahami apa arti cinta
Mungkin cinta mudah dicari tapi tidak untuk ketulusan dan rasa nyaman

Oleh: Atikasuri Fidyaningtyas
Instagram Profile: @atikaohay

Thursday, November 16, 2017

Hujan

November, ya sekarang bulan november
Hujan turun begitu deras mengisi hari-hari di bulan ini
Dingin, ya saat ini terasa sangat dingin
Ku lalui semua hari dengan tak berselimut dan hanya beratap mimpi
Hujan, begitu sangat dinginnya kau bagi ku saat ini
Hujan, begitu derasnya kau mengikis semua yang ku punya
Tak ada lagi cukup materi, hanya tersisa setitik harapan dan atap mimpi yang masih memayungi
Namun disini aku masih tetap berdiri, ku percaya atas apa yang tersisa
Disini aku masih tetap berdiri dan tak akan pernah ku menyerah
Hujan, ku yakin kau pasti akan reda dan berlalu berganti dengan pelangi dan harum bunga yang bermekaran layaknya tahun kemarin
Indah dan bahkan mungkin lebih indah dari tahun kemarin dan tahun-tahun sebelumnya